TOKOH-TOKOH KAFIR YANG KISAHKAN AL-QUR’AN (Part 1)
Oleh : Dudin Samsudin[1]
Ilaahi
anta maqsuudi waridlooka mathluubi a’thini mahabbataka wama’rifataka.
Al-Qur’an
merupakan kitab suci yang didalamnya terdapat macam-macam permasalahan serta
pemecahannya. Bahkan Al-qur’an sebagai “petunjuk bagi umat manusia.. ”.
Dari
6.236 ayat yang terdapat dalam Kalaamullah tersebut, sebagian berisi
tentang studi tokoh. Baik itu tokoh-tokoh pembela Islam dan juga tokoh-tokoh
yang terkenal sangat membenci agama Allah ini. Adapun, munculnya para tokoh
tersebut menurut tafsiran para ulama, baik itu tokoh yang namanya tersurat
ataupun yang tersirat.
Pada
makalah ini saya akan menguraikan sedikit dari beberapa orang tokoh, yang
namanya diabadikan dalam al-Qur’anul Kariim. Tokoh-tokoh yang saya tulis
merupakan tokoh yang hidup pada zaman Rasulullah Saw. Semoga menjadi I’tibar
bagi kita yang membacanya. Amiin.
Diantara
tokoh-tokoh yang akan dibahas pada makalah ini ialah: Abdullah bin Ubay, Abu
Lahab bin Abdul Muthalib, Abu Thalib bin Abdul Muthalib, Al-Hakam bin Hisyam
alias Abu Jahal, ‘Amir Ibnuth-Thufail An-Nadhar ibnul-Harits, Ka’ab
ibnul-Asyraf, Tsa’labah bin Hathib, Umayyah bin Khala, dan Uqbah bin Abi Mu’ith.
1.
Abdullah bin Ubay
“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu,
mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul
Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan
Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang
pendusta
Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai
perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat
buruklah apa yang telah mereka kerjakan.” , (al-Munafiqun 1-2)
Sejumlah
mufassir dan ahli hadits sepakat bahwa surat al-Munafikuun ayat 1-2 diturunkan
berkenaan dengan Abdullah bin Ubay, dedengkot kaum munafik.[2]
Ketika
Rasulullah saw. memerangi
Banil-Mushthaliq, beliau singgah di salah satu sumur milik mereka yang
dikenal dengan sumur al-Muraisi’. Orang-orang pun bergegas menuju sumur.
Saat itu, Umar bin Khatab ditemani seseorang dari Bani Ghifar yang bernama
Jahjah bin Mas’ud yang diupah untuk menuntun kuda Umar. Jahjah dan Sinan bin
Wabar , teman Ibnu Aun bin al-Kharzraj berebutan mengambil air. Keduanya baku
bunuh. Aj-Juhni berteriak, “Hai kaum Anshar!” dan Jahjah berteriak, “Hai kaum
Muhajirin”
Abdullah
bin Ubay pun marah. Saat itu dia bersama sekelompok pengikutnya, diantaranya
Zaid bin Arqam, seorang anak muda. Dia berkata “apakah mereka telah
membunuhnya? Mereka telah mengalahkan golongan dan jumlah kami di negeri kami
sendiri. Demi Allah, apa yang kita sediakan untuk orang-orang Quraisy hanyalah
sepeti kata para orang tua, ‘Kamu memberi
makan anjingmu hingga gemuk, lalu ia menggigitmu! Demi Allah, jika kami
kembali ke Madinah, niscaya kaum yang mulia akan mengusir kaum yang hina dari
sana.’”
Dia
menghampiri kaumnya yang ada disana lalu berkata “inikah yang telah mereka
lakukan terhadap dirimu, padahal kamu membolehkan mereka tinggal di negerimu
dan berbagai harta kekayaan dengan mereka. Demi Allah jika kamu menahan
milikmu, niscaya mereka beralih ke negeri lain.”[3]
Begitu
Zaid bin Arqam mendengar Abdullah bin Ubay berkata demikian, dia langsung
menemui Rasulullah saw. Kasus ini terjadi setelah beliau menyelesaikan urusan
dengan musuhnya. Zaid menyampaikan ucapan Ubay kepada Nabi saw. yang saat itu
tengah bersama Umar bin Khatab. Umar berkata, “Suruhlah Abad bin Basyar
membunuhnya”
Rasulullah
bersabda “Hai Umar, bagaimana nanti kalau orang membicarakan bahwa Muhammad
telah membunuh temannya sendiri”? “ Jangan!”
Rasulullah
memerintahkan untuk melanjutkan perjalanan.
Begitu
memperoleh kabar bahwa Zaid melaporkan perkataan itu, Abdullah bin Ubay datang
kepada Rasulullah dan berkata “Aku tidak mengatakan dan mengucapkan hal itu”
Ubay
adalah seorang terpandang dan terhormat dikalangan kaumnya, lalu para
sahabat Nabi dari kalangan Anshar yang
tengah berada di dekatnya berkata, “Hai Rasulullah , mungkin anak itu hanya
berilusi dan tidak menangkap apa yang dikatakan oleh Abdullah bin Ubay karena
terlampau sayang kepadanya dan ingin membelanya.”
Ibnu
Ishak berkata bahwa setelah Rasulullah saw. juga berangkat secara terpisah dari
rombongan. Usaid bin Khidir menemuinya. Setalah menyampaikan salam kenabian dia
berkata, “Hai Nabi Allah,, demi Allah engkau dapat beristirahat meskipun dalam
suasana yang tidak menyenangkan, padahal sebelumnya engkau tidak pernah
melakukannya”
Rasulullah
beersabda “apakah kamu tidak mendengar perkataan temanmu?”
“Teman
yang mana ya Rasul?” tanya Usaid
“Abdullah
bin Ubay”
“Apa
yang telah dikatakannya?”
“dia
mengatakan bahwa apabila telah tiba di Madinah maka orang terpandang akan
mengusir orang hina”
Usaid
berkata “Engkaulah , Hai Rasulullah. Demi Allah, engkaulah yang akan
mengusirnya jika engkau mau. Dialah yang hina dan engkaulah yang mulia”. Usaid
melanjutkan “Hai Rasulullah, kasihanilah dia. Demi Allah dia telah mengirimmu.
Semula kaum Ubay telah merangkai batu sapir supaya dikenakannya sebagai
mahkota. Jadi dia berpandangan bahwa engkau telah merampas kerajaannya.”[4]
Kemudian
diturunkanlah surat yang menceritakan Ubay dan kaum munafik serta orang-orang
yang seperti mereka. Setalah ayat ini turun, Rasulullah saw memegang telinga
Zaid bin Arqam seraya bersabda “orang inilah yang Allah telah menyempurnakan
penjelasan melalui telinganya”. (HR. Tirmidzi)
2.
Abu Lahab bin Abdul Muthalib
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan
benar-benar binasa dia! Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia
usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka). Dan
(begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada
tali dari sabut yang dipintal” .
Qs. Al-Lahab: 1-5
Nama
alengkapnya ialah Abdul Uzza bin Abdul Muthalib. Dia sering juga dipanggil Abu
Utbah. Dan dia dinamai Abu Lahab, karena wajahnya bercahaya. Keluarganya suka
meamanggil Abu Lahab, karena kilauan dan ketampanan wajahnya. Allah mencegah
niat mereka untuk memanggil Abu Nur. Allah melancarkan lidah mereka untuk
memanggilnya dengan Abu Lahab ‘bapak kilauan cahaya api’.
Kata
Lahab ini hanya digunakan untuk, menunjukan sesuatu yang buruk dan tidak
disukai, yaitu api neraka. Kemudian Allah menjadikan hal itu sebagai kenyataan dengan menjadikan
neraka sebagai tempat tinggalnya[5]
Ibnu
Abbas r.a berkata: “ketika diturunkan ayat, ‘’Dan berilah peringatan kepada
kerabat-kerabatmu yang terdekat ‘ , Rasulullah pergi lalu naik ke Bukit
Shafa. Dia berseru, ‘Hai orang-orang yang menikmati pagi!’”
Lalu
orang-orang berdatangan mengelilinya. Nabi bersabda “Hai saudaraku, Bagaimana
menurut pendapat kalian jika aku memberitahukan kepada kalian bahwa seekor kuda
muncul dari kaki bukit ini, apakah kalian akan mempercayaiku?”
Mereka
menjawab ‘kami tidak pernah didustai olehmu’
Beliau
melanjutkan, ‘aku memperingatkan kepada kalian bahwa dihadapanku ada azab yang
besar.
Abu
Lahab berkata, ‘celakalah kamu ! apakah kamu mengumpulkan kami hanya untuk
ini?’
Abu
Lahab beranjak pergi. Kemudian turunlah ayat ‘Binasalah kedua tangan Abu
Lahab dan binasalah dia.’ (al-Lahab : 1)
Ketika
istrinya mendengar bahwa ada ayat al-Qur’an yang diturunkan berkenaan dengan
suaminya, dia menemui Rasulullah saw. Saat itu beliau tengah duduk di mesjid
dekat Ka’bah bersama Abu Bakar. Dia membawa batu. Setelah dekat, Allah merampas
penglihatannya sehingga tidak dapat melihat Rasulullah saw, dan hanya melihat
Abu Bakar.
Dia
berkata ,’hai Abu Bakar, aku menerima kabar bahwa temanmu telah mengejekku.
Demi Allah jika aku menjumpainya, niscaya kulempar mulutnya dengan batu ini.’
Dia
pun berlalu. Abu Bakar berkata, ‘Hai Rasulullah apakah dia tidak melihatmu?’
beliau menjawab ‘dia tidak melihatku. Allah membuat matanya tidak dapat
melihatku’.
Kaum
Quraisy suka memanggil Muhammad sebagai pencela. Mereka mencacinya. Beliau
bersabda ‘setelah Allah melindungiku dari gangguan kaum Quraisy, bukankah mengherankan
apabila mereka masih mencaci dan mengejekku dengan menyebutku sebagai pencela,
padahal namaku Muhammad.?’
Ketika
ada utusan yang datang menemui Rasulullah, Abu Lahab selalu berkata
‘sesungguhnya dia adalah pendusta dan tukang sihir’. Merekapun pulang dan tidak
menemui beliau.
Pada
kesempatan lain, datang pula sebuah utusan. Abu Lahab melakukan tindakan
seperti yang dilakukaknya kepada utusan pertama. Namun mereka berkata ‘Kami
tidak akan pulang sebelum melihat dan mendengar perkataannya’.
Abu
Lahab berkata kepada mereka, ‘sesungguhnya kami senantiasa mengobatinya .
mampus dan celakalah dia.’
Rasulullah
menerima kabar tentang ucapan Abu Lahab, dan beliau berduka. Lalu Allah
menurunkan ayat ‘Binasalah kedua
tangan Abu Lahab dan binasalah dia.’ (al-Lahab : 1)[6]
3. Abu Thalib
bin Abdul Muthalib
“Tiadalah
sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada
Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum
kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu
adalah penghuni neraka jahanam.
Dan
permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah
Karena suatu janji yang Telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala
jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, Maka Ibrahim berlepas
diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat Lembut
hatinya lagi Penyantun.” . Qs. At-taubah: 113-114
Abu
Thalib bin Abdul Muthalib ialah paman Rasulullah saw. yang menanggung kehidupan beliau setelah Abdul
Muthalib wafat. Abu Thalib merupakan ‘tameng’ bagi Rasulullah saw. yang melindungi beliau dari kaum kafir, sehingga
tidak ada seorangpun diantara mereka yang menyakitinya. Abu Thalib sangat
begitu menyayangi Rasulullah. Namun, ternyata sampai ajalnya tiba, Abu Thalib
tidak pernah mengucapkan dua kalimat syahadat yang merupakan gerbang memasuki
agama Islam.
Diriwayatkan
dari Sa’id ibnul-Musayyab, dari ayahnya yang berkata, “tatkala menjelang
ajalnya Abu Thalib, Nabi saw menjenguknya. Disana ada Abu Jahal dan Abdullah
bin Abi Umayah.
Nabi
bersabda :’ hai paman, ucapkanlah ‘tiada tuhan melainkan Allah’ bersama-sama
aku. Ia merupakan kalimat yang akan aku gunakan untuk membelamu di sisi Allah’.
Abu
Jahal dan Ibnu Abi Umayah berkata ‘ Hai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama
Abdul Muthalaib?’
Kedua
orang ini mengatakan itu secara terus-menerus sehingga ucapan Abu Thalib yang
terakhir dilontarkannya ialah ‘Dalam agama Abdul Muthalib’.
Nabi
saw. bersabda , ‘sungguh, aku akan memintakan ampun untukmu selama tidak
dilarang.’
Maka
turunlah firman Allah Ta’ala :
“tiadalah
sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang beriman untuk memintakan ampun (kepada
Allah) bagi orang-orang musyriki, walaupun orang-orang musyrik itu adalah
kerabatnya sendiri, sudah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu
merupakan penghuni neraka Jahannam”. At-taubah 113[7]
Walloohua’lam....
[1] Mahasiswa Pascasarjana UIN Bandung jurusan Sejarah Kebudayaan Islam
[2] Pendapat itu dikemukakan oleh Tirmidzi (XII:201), penulis ad-Daurul-Mantsuur
(VI:222), al-Qurthubi (18:121), Ibnu Katsir (IV:371) , penulis al-Mustadrak
(VII:488), at-Thabari (XXVIII:70), al-Khazin dan al-Baghawi (VII:82), Imam
Ahmad (IV:2368) dan al-Wahidi (hlm. 457)
[3] Sirah Ibnu Hisyam, III : 335
[4] Fii Zhilali Qur’an, XXVIII: 110
[5] Al-Jaami li’ahkamil Qur’ani, XX:236
[6] Al-Jaami’ li Ahkaamil-Qur’ani, XIX: 232
[7] HR. Bukhari dan Muslim
0 komentar
Berkomentarlah dengan Bahasa yang Relevan dan Sopan.. #ThinkHIGH! ^_^