APRESIASI dan KRITIK TERHADAP BUKU KAREN ARMSTONG 'MUHAMMAD PROPHET FOR OUR TIME'

Para pembaca sekalian, pada tulisan pertama ini saya akan mencoba mem-Post-kan salah satu tugas saya diperkuliahan. yaitu Apresiasi terhadap karya Karen Armstrong, dengan dujul bukunya "Muhammad Prophet for Our Time".
Tulisan ini dibuat pada mata kuliah 'Sirah Nabawi' di Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Dengan dosen Pengampu : Dr. Ajid Tohir, M.Ag. Semoga bermanfaat...

A. IDENTITAS BUKU 

Judul Buku       : Muhammad Prophet for our Time
Penulis              : Karen Armstrong
Penerbit            : Mizan
Tebal Halaman : 265

Buku ini terdiri dari 5 Bab, yang diantaranya :
a. Bab Satu : Makkah
b. Bab Dua : Jahiliah
c. Bab Tiga : Hijrah
d. Bab Empat : Jihad
e. Bab Lima : Salam

Selain itu, pada akhir buku ini terdapat Glosarium, Catatan-catatan dan juga Indeks.


B. BIOGRAFI PENULIS 
Karen Armstrong dilahirkan 14 November1944 di Wildmoor, Worcestershire, Inggris) adalah seorang pengarang, feminis dan penulis tentang agama-agama Yudaisme, Kristen, Islam dan Buddhisme. Ia dilahirkan dalam sebuah keluarga Irlandia yang setelah kelahiran Karen pindah ke Bromsgrove dan kemudian ke Birmingham. Dari 1962 hingga 1969, Karen Armstrong menjadi seorang biarawati dari Ordo Society of the Holy Child Jesus. Ini adalah ordo pengajaran, dan setelah ia melewati masa-masa sebagai postulan dan novisiat hingga mengucapkan kaulnya sebagai biarawati, ia dikirim ke St Anne's College, Universitas Oxford. Di sana ia belajar sastra dan sejarah Inggris. Armstrong meninggalkan ordonya pada waktu studinya. Setelah lulus ia masuk ke program doktoral (tetap di Oxford) tentang Alfred, Lord Tennyson. Ia melanjutkan studinya ini sementara kemudian mengajar di Universitas London, tetapi tesisnya ditolak oleh seorang penguji luar. Akhirnya ia meninggalkan akademia tanpa menyelesaikan studi doktornya.  

C. ISI BUKU

Kalau melihat kontens apa yang ditulis oleh Karen Armstrong pada bukunya “Muhammad Prophet For Our Time” sama saja dengan tulisan tentang sirah Nabawiyah pada umumnya yang ditulis oleh orang-orang Islam sendiri.

Inilah diantara garis besar isi buku ini yang bisa saya kutip:

Ketika ia menjelaskan tentang kehidupan Arab Pra-Islam, ia menggunakan sebuah teori tentang kesukuan yang biasa ia sebut dengan istilah kaum nomadik (berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain). Kehidupan nomadik yang keras dan suram ini menyebabkan banyaknya orang yang berebut untuk sesuatu yang sedikit. Karenanya ghazw (serangan untuk merebut harta) menjadi esensial bagi ekonomi badawah. Dalam menyikapi hal ini bangsa Arab pada waktu itu tidak ada yang menyalahkan akan kondisi ini dikarenakan ghazw merupakan fakta yang harus diterima. Makkah menurut Karen Armstrong merupakan sebuah kota yang makmur dikarenakan merupakan pusat perdagangan internasional dan para pedagang dan pemodalnya menjadi kaya. Namun begitu Makkah tidak dapat merubah kehidupan nomadik yang ada di sekitarnya meskipun masyarakat Makkah telah lama meninggalkannya. Oleh karenanya kehidupan di Makkah dan sekitarnya yang keras ini dapat menghasilkan sebuah konsep yang mereka sebut dengan muruwah yang berarti keberanian, kesabaran, ketahanan dari musuh-musuhnya untuk membalas terhadap pelanggaran yang dilakukan sebuah kelompok, melindungi anggotanya yang lemah, serta mempertahankan kehormatan suku.

Di Arab pada masa itu terjadi kegelisahan spiritual sehingga terjadi perubahan pada ritus-ritus keagamaan. Oleh karenanya menurut Karen Armstrong Muhammad pergi melakukan ritual di goa adalah dikarenakan untuk mencari solusi baru. Dan pada saat sedang menyendiri di Gua Hira Muhammad mengalami visi yang mengejutkan dan dramatis. Kata-kata yang keluar seakan-akan dari kedalaman wujudnya menjangkau akar persoalan di Makkah.

Karen berusaha untuk merasionalisasikan ketika Nabi Muhammad menerima wahyu dengan mengatakan bahwa ketika di Gua Hira Nabi mengalami visi mengejutkan dan dramatis dan kata-kata yang keluar seakan-akan dari kedalaman wujudnya, menjangkau akar persoalan di Makkah. Visi tersebut ialah ayat yang pertama turun yaitu surat al-‘Alaq ayat 1-Selanjutnya ia menceritakan:“Ketika tersadar Muhammad begitu masygul memikirkan bahwa setelah semua usaha spritualnya, beliau ternyata dirasuki oleh jin sehingga tak lagi ingin hidup. Dalam keputusasaannya, beliau berlari dari gua dan mulai mendaki puncak gunung untuk melontarkan dirinya hingga mati. Tetapi beliau mendapatkan visi yang lain. Beliau melihat sosok yang besar yang memenuhi ufuk dan berdiri menatapnya tak bergerak ke depan maupun ke belakang. Beliau mencoba untuk menjauh, tetapi, katanya setelah itu, “Kearah langit mana pun aku memandang, aku melihatnya seperti sebelumnya.” Itulah ruh wahyu yang belakangan disebut Muhammad sebagai Jibril. Ini bukanlah malaikat naturalistic yang cantik, melainkan sebuah kehadiran transenden kategori spasial dan manusiawi biasa.”

Ia juga menjelaskan pendapatnya bahwa penolakan yang terjadi terhadap apa yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad terhadap orang-orang Quraisy dikarenakan gaya hidup jahiliyyah yang ketika itu masih melekat dalam kalangan orang-orang Quraisy. Jahiliyyah yang ia gambarkan adalah mengandung makna “sifat lekas marah”: rasa kehormatan dan prestise yang tinggi, keangkuhan, keberlebihan, dan di atas semua itu, kecendrungan kronis kepada kekerasan dan pembalasan dendam.
Kemudian ia menjelaskan bahwa dalam kasus Isra’ Mi’raj al-Quran tidak berpanjang lebar tentang penampakan ini. Dan Muhammad hanyalah melihat tanda-tanda dan simbol-simbol Tuhan bukan Tuhan itu sendiri, dan para mistikus belakangan menekankan paradoks penampakan transeden ini, yakni Muhammad melihat dan sekaligus tidak melihat esensi ilahi. Selanjutnya, ia juga menjelaskan bahwa al-Quran mengatakan Muhammad memperoleh penampakan di samping pohon bidara yang menandai batas terjauh pengetahuan manusia (sidratul muntaha).

Perselisihan Muhammad dengan orang-orang Yahudi adalah tidak bersifat religious melainkan ekonomis dan politis. Posisi Yahudi pada saat itu di oasis itu telah memburuk, dan jika Muhammad berhasil menyatukan suku Aus dan Khazraj, mereka tidak akan berpeluang untuk meraih kembali supremasi mereka. Oleh karena itu, mereka berpandangan akan lebih bijak untuk menyokong Ibn Ubay dan para kaum Pagan Arab di oasis yang tetap menentang Muhammad.

Ia juga menjelaskan bahwa Nabi Muhammad pada dasarnya tetap berkeyakinan bahwa paham-paham yang aneh seperti paham keeksklusifan Yahudi dan Kristen dengan Tuhan itu ada tiga dan Yesus adalah putara Allah merupakan penyimpangan bid’ah oleh sekelompok minoritas yang tersesat. 

Perang yang terjadi pada dasarnya adalah merupakan sebuah perasaan kaum Muslim yang merasa bahwa mereka telah mengalami serangan yang mengerikan; pengusiaran mereka dari Makkah merupakan tindakan yang tidak memiliki justifikasi. Pengasingan dari suku merupakan pelanggaran terhadap nilai kesucian yang terdalam di Arab; itu merupakan serangan terhadap inti identitas kaum Muslim.

Kemudian ketika ia menjelaskan bahwa Nabi Muhammad mencoba untuk memberi landasan etika bagi ghazw yang dilancarkannya, namun beliau tak memiliki pengalaman serangan militer yang panjang, dan bakal mendapat pelajaran bahwa jika sebuah siklus kekerasan telah dimulai, maka siklus itu akan mencapai momentum tak terduga dan bisa berkembang secara tragis di luar kendali. Dengan teori ini pada dasarnya ia ingin menjelaskan bahwa serangan ghazw (serangan harta) dengan kekerasan yang Nabi lakukan menjadi salah satu dimulainya siklus kekerasan perang yang terjadi antara Quraisy dan kaum Muslim.

Ia juga masih menggunakan kisah-kisah ayat setan atau gharaniq yang diriwayatkan dari at-Thabari dengan menyimpulkan bahwa Muhammad menggunakan kisah gharaniq itu hanya agar orang-orang Quraisy dapat memandang pesan yang disampaikannya dengan lebih bersahabat.

Kemudian ia juga menjelaskan bahwa para sejarawan Islam yang mengatkaan bahwa Abu Jahal lah yang mempengaruhi kaum Quraisy untuk berperang melawan kaum Muslim, namun menurutnya bahwa Abu Jahal pun pada dasaarnya tidak ingin berperang karena tergambar dari kata-kata Abu Jahal bahwa sebenarnya ia sendiri tidak mengharapkan sebuah pertempuran.

Kemudian dengan mengutip surat al-Ahazab ayat 35 ia mengatakan bahwa ada kesetaraan gender yang sepenuhnya dalam Islam: baik laki-laki maupun perempuan memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama. Ketika para perempuan mendenganr ayat ini, mereka bertekad untuk mewujudkan visi ini menjadi nyata di dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Insiden Quraizhah menandai titik nadir karier Muhammad. Namun, penting dicatat bahwa suku Quraizhah tidak dibunuh atas dasar landasan agama atau rasial. Tak satu pun suku Yahudi di Arab yang keberatan atau berupaya turun campur. Mereka jelas memandang insiden tersebut sebagai masalah yang sepenuhnya bersifat politis dan kesukuan.

Bahwa tragedi Qurazhah sebenarnya bukan hal yang merupakan sesuatu keinginan yang diniatkan Nabi. Karena tujuan awalnya adalah untuk mengakhiri kekerasan Jahiliyyah, tetapi kini beliau bersikap seperti seorang kepala suku Arab yang biasa. Beliau terpaksa berperang demi meraih perdamaian akhir, akan tetapi pertempuran telah membuat serangan demi serangan balasan, pembantaian dan pembalasan dendam. Oleh karenanya, kemudian beliau menyadarinya sehingga harus menemukan jalan lain untuk mengakhiri konflik ini dengan meninggalkan perilaku Jahiliyyah yaitu peperangan.

Ia menjelaskan bahwa spirit kekritisan adalah dibutuhkan pada masa kini. Ia mengungkapkan bahwa sebagian pemikir Muslim memandang jihad melawan Makkah sebagai klimaks dari karier Muhammad dan gagal mencatat bahwa Nabi pada akhirnya mencela peperangan dan mengambil kebijakan non-kekerasan. Semantara itu para kritikus Barat berpandangan bahwa Nabi Islam adalah seorang penggemar perang, dan gagal melihat bahwa sejak dari awal sekali beliau menentang keangkuhan dan egotism Jahili yang bukan hanya menyalakan agresi pada zamannya, melainkan juga tampak nyata di dalam beberapa pemimpin, baik Muslim maupun Barat pada zaman sekarang. Nabi, yang tujuannya adalah perdamaian dan perbuatan baik, menjadi symbol perjuangan dan perpecahan (sebuah perkembangan yang bukan hanya tragis, melainkan juga berbahaya bagi stabilitas yang padanya masa depan umat manusia bergantung).

Diakir tulisannya, Karen Armstrong menyimpulkan bahwa jika kita ingin menghindari kehancuran, dunia Muslim dan Barat mesti belajar bukan hanya untuk bertoleransi, melainkan juga saling mengapresiasi. Titik berangkat yang baik adalah dari sosok Muhammad: seorang manusia kompleks yang menolak kategorisasi dangkal yang didorong oleh ideology yang terkadang melakukan hal yang sulit atau mustahil untuk kita terima, tetapi memiliki kegeniusan yang luar biasa dan mendirikan sebuah agama dan tradisi budaya yang didasarkan bukan pada pedang, melainkan pada “Islam”, berarti perdamaian dan kerukunan.

D. KRITIK TERHADAP BUKU

Sebagai orang Barat, yang menerima pendidikan Katolik – bahkan mantan seorang biarawati - , ia cukup berani menulis kisah Nabi Muhammad saw dengan cara berbeda. Ia memandang Muhammad saw sebagai seorang tokoh revolusioner, seorang pembaharu. Ceritanya sama sekali berbeda dengan kisah-kisah yang pernah saya baca, dimana Nabi digambarkan begitu suci dan penulisnya menghilangkan kesan-kesan sosio-antropologis dalam proses penulisan.

Dalam hal ini, saya melihat bahwa penulis biografi Nabi Muhammad seharusnya tak menghilangkan kesan-kesan itu hanya dengan tujuan mendekatkan umat Islam pada sosok Nabi. Misalnya, gambaran mengenai konsep ikatan kekerabatan dan nilai-nilai yang dianut masyarakat Arab ketika itu: ketika Nabi menghukum Yahudi bagi Qainuqa yang mengingkari perjanjian. Dalam Sirah tulisan Ilmuwan Muslim, jelas latar belakangnya ideologi. Tetapi, Karen menggambarkannya atas latar belakang 'pengkhianatan' atas perjanjian yang telah dibuat Nabi dengan mereka. Oleh karena itulah, para bani yang lain tak melakukan pembalasan karena itu menjadi semacam kebiasaan dalam suku-suku di Arab Saudi dimasa itu dalam merebut dan mempertahankan monopoli ekonomi.

Tetapi disisi lain, seperti pada karya-karya umum dari para kalangan orientalisme yang sangat kuat untuk menanamkan pola imperialisme pemikiran Barat terhadap pemikiran Timur. Karen Armstrong ini, meskipun secara yang tampak dalam karya-karyanya tentang Islam ia begitu simpatik namun pada dasarnya ia juga ingin menanamkan pola-pola pemikiran Barat terhadap pola-pola pemikiran Timur dengan berdiri pada pemikiran yang berdiri atas dasar rasionalisme dan pluralisme.

Latar belakangnya sebagai seorang sastrawan Inggris membuat analisanya terutama yang berkaitan dengan kisah percintaan Nabi menggunakan analisa sastra Inggris. Seperti ketika ia menceritakan bahwa Ummu Salamah terpikat oleh Nabi dikarenakan senyumnya yang membuat Ummu Salamah terpikat. Juga ketika ia menceritakan tentang kisah Nabi dan Zainab yang ia tuturkan dengan gaya percintaan dalam kisah percintaan Nabi Daud dengan istrinya Uria.

Buku ini juga dirancang sedimikan rupa untuk para pembaca Barat. Sehingga ia seringkali berusaha merasionalisasikan hal-hal yang bersifat irasional seperti ketika Nabi menerima wahyu yang ia gambarkan sebagai visi yang kuat.

Selanjutnya ia juga menggunakan kisah ayat setan (gharaniq) yang sudah tidak digunakan oleh para sejarawan Islam kontemporer dikarenaknan ketidak jelasan sumbernya.

Meskipun begitu, buku ini juga memiliki kelebihan karena dalam menjelaskan kisah Nabi Muhammad SAW ia menggunakan kerangka teoritis yang baik dalam menggunakan penjelasannya sehingga dapat mudah dipahami dengan baik, lain seperti kebanyakan para penulis sejarawan dari kalangan Islam.

Wallohua'lam......
APRESIASI dan KRITIK TERHADAP BUKU KAREN ARMSTONG 'MUHAMMAD PROPHET FOR OUR TIME'
Item Reviewed: APRESIASI dan KRITIK TERHADAP BUKU KAREN ARMSTONG 'MUHAMMAD PROPHET FOR OUR TIME' 9 out of 10 based on 10 ratings. 9 user reviews.
Emoticon? nyengir

Berkomentarlah dengan Bahasa yang Relevan dan Sopan.. #ThinkHIGH! ^_^

Komentar Terbaru

Just load it!